My Journey With Putri – My Sad Ending

Memasuki bulan kesembilan pacaran kami, kerikil-kerikil masalah mulai bertaburan. Putri mulai sering banyak menuntut pada saya. Karena kami LDR jadi kami berkomunikasi hanya lewat sms dan telepon. Waktu itu saya sudah berada di tingkat 2 (semester 3 dan 4) dan menuju ke tingkat 3 (semester 5). Tingkat 2 di STAN adalah tingkatan yang paling krusial dan kritis karena di tingkat ini, banyak pelajaran sulit yang pastinya membutuhkan waktu untuk dipelajari. Di saat saya menghadapi pelajaran-pelajaran yang sulit itu, Putri justru menuntut saya untuk memberi perhatian dan komunikasi yang lebih banyak dengan dia. Saya sering dan berkali-kali meminta pengertian dia bahwa saya harus fokus dulu dengan studi saya. Saya juga menyuruh dia untuk lebih fokus dengan kuliahnya. Tapi dia sangat sulit untuk memahami permintaan saya itu. Kalo saya meminta waktu untuk belajar, dia pasti ngambek dan marah. Putri sangat tidak mengerti akan masa depanku. Karena pertengkaran itulah, hubungan kami perlahan-lahan menjadi renggang.

Selain itu, kedekatan saya dengan teman perempuan saya yang sekelas dengan saya membuat putri cemburu setengah mati. Saya sudah menjelaskan kepadanya bahwa kami hanyalah teman biasa saja, namun dia tidak mau mengerti. Mungkin karena dia kesal gara-gara saya tidak punya waktu untuk komunikasi dengan dia lagi, sehingga dia menjadikan pertemanan saya dengan teman-teman kampus saya sebagai alas an dia untuk mulai membenci saya.

Pertengkaran kami memuncak akhirnya di awal bulan Maret 2012. Dan di bulan itu pula, dia memutuskan saya hanya gara-gara saya belum punya kesempatan untuk berkomunikasi sesering dulu dengannya dan gara-gara saya berteman dekat dengan teman-teman wanita saya di kampus. Saya meminta dia untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan itu, tapi dia tidak peduli dan memutuskan hubungan kami. Saya pada saat itu sangat sedih. Kesedihan saya semakin mendalam ketika belakangan, saya tahu bahwa di belakang saya, jauh sebelum kami putus, ternyata dia telah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang baru dia kenal bernama Bekty Ernandi. Setelah kami putus, dia baru mengakui bahwa dia pacaran dengan pacar barunya yang terpaut umur 7 tahun dengannya itu. Dia mengakui bahwa dia bosan pacaran dengan saya karna dia tidak tahan untuk LDR dan tidak bisa berkomunikasi sesering dulu, sehingga ketika ada seorang laki-laki yang mapan dan memintanya menjadi pacarnya, dia pun langsung menyanggupi permintaan itu.

Saya sangat sedih mendengar pengakuannya itu. Putri yang ku kenal sebagai gadis yang baik, penyayang, dan setia ternyata tidak bisa menahan dirinya untuk mencari kasih saying yang lain ketika kasih saying dari saya tidak bisa dia dapatkan. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi dan berusaha keras untuk melupakannya. Begitu keras usaha saya untuk melupakannya karna saya tidak menyangka, orang yang sangat saya sayangi itu tega berselingkuh di belakang saya. Sungguh saya tidak menyangka, Putri mempunyai sifat buruk seperti itu di balik sifatnya yang ku kenal sangat penyayang kepada saya. Yang ku sesalkan dari pacaran dengan Putri adalah saya sudah mengorbankan banyak waktu, harta, bahkan nilai-nilai perkuliahan saya banyak yang hancur berantakan hanya gara-gara mempertahankan hubungan saya dengan dia tapi dengan justru memutuskannya.

Putusnya hubungan kami merupakan pukulan yang sangat telak bagi saya. Itu adalah saat-saat dimana aku membutuhkan perhatian dan dukungannya pada tahun terakhir saya berada di STAN sebelum lulus. Namun ternyata, bukan ini jalan hidup kami. Dia akhirnya bahagia dengan pria lain yang dia pilih

(Tamat)

My Journey With Putri – My Happy Beginning

Enam bulan setelah saya bertemu Putri, hari-hari jadi terasa indah. Namun, bagi Putri, selain merasakan kebahagiaan bersama saya, dia juga terkadangan merasa sedih bahkan kesepian karena dia merindukan sosok ayahnya. Bahkan kerinduan itu makin menjadi-jadi tatkala dia semakin merasakan sifat-sifat ayahnya yang lembut di dalam diri saya. Dia katakan bahwa saya mirip dengan ayahnya dalam hal sikap dan kepribadian. Saat itu saya sangat menyayanginya karna dia membuat hari-hari saya begitu indah dan bermakna. Kami bertekad untuk semakin memantaskan diri untuk kita masing-masing.

Oleh karena itu, saya terus memberikan dorongan kepada dia untuk berhijab. Saya tidak ingin auratnya terlihat oleh laki-laki yang tidak pantas untuk melihatnya, termasuk saya. Saya ingin auratnya tertutupi oleh busana yang sesuai dengan ajaran agama kami. Akhirnya dia perlahan-lahan mulai belajar untuk berhijab, walaupun dia mengakui bahwa tidak mudah untuk meninggalkan cara berpakaian yang dia suka. Akhirnya lama-kelamaan, dia mulai membiasakan diri untuk berhijab. Setelah saya makin dekat dengan Putri, dia memberi kesempatan kepada saya untuk berkenalan dengan ibunya. Saya pun berbicara dengan ibunya dan ibunya mengakui sangat senang dengan kedekatan saya dengan Putri. Ibunya berkata bahwa sejak saya dekat dan pacaran dengan anaknya, anaknya jadi semakin rajin membantu ibunya di rumah. Putri yang awalnya cuek dengan pekerjaan rumah dan jarang membantu ibunya, kini semakin sering membantu ibunya. Ibunya mengakui bahwa Putri seperti mendapatkan semangat hidupnya kembali setelah ditinggal mati ayahnya. Saya sangat senang dan bahagia dengan kenyataan itu. Paling tidak, saya bisa mengubah kehidupan satu orang anak manusia menjadi lebih baik.

Banyak hal yang masih saya ingat tentang Putri walaupun saat ini saya sudah tidak menjadi pacarnya lagi. Beberapa dia antaranya adalah, Putri sangat cinta dengan anak kecil. Setiap melihat anak kecil, dia selalu merasa senang dan bahagia, karena bagi dia, anak kecil itu adalah makhluk yang tidak berdosa yang pantas untuk disayangi dan dikasihi. Dia begitu cinta pada anak kecil karena dia tidak ingin semua anak kecil merasakan KDRT yang pernah dia rasakan sewaktu dia masih kecil. KDRT itu dilakukan oleh ibu tiri Putri. Mengapa Putri memiliki ibu tiri ? Karena ibu kandungnya Putri adalah istri kedua almarhum ayahnya sehingga hubungan istri pertama ayahnya dan Putri adalah ibu tiri-anak tiri. Hal lain yang masih saya ingat adalah dia menyukai hewan berjenis kucing besar seperti Cheetah, Macan, Harimau, dan lain-lain. Dia bahkan punya obsesi memiliki hewan-hewan itu sebagai hewan peliharaan. Sungguh ini obsesi yang sangat unik untuk gadis seusianya.

Putri memiliki cita-cita bekerja sebagai jurnalis internasional. Bagi dia, jurnalis itu orang yang serba tahu, sehingga dia juga ingin menjadi orang yang serba tahu seperti jurnalis. Band kesukaan putri adalah RAN (Rayi Asta Nino). Komik kesukaannya Miiko. Tidak seperti gadis-gadis muda kebanyakan yang menggandrungi segala hal tentang Korea, Putri justru tidak menyukainya. Putri justru lebih suka dengan serial drama Amerika seperti Gossip Girl, Hannah Montana, dll, dibandingkan serial drama Korea semisal Dream High, Secret Garden, atau My Girlfriend Is Gumiho.

Itulah sedikit hal mengenai Putri yang masih saya ingat sampai sekarang. Delapan bulan pertama saya pacaran dengan dia, dunia masih terasa sangat indah sebelum saya menyadari bahwa keputusan saya untuk pacaran dengan dia adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.

My Journey With Putri – My First Impressive Meeting

Kali ini saya akan sedikit bernostalgia tentang kisah saya dengan mantan pacar saya. Kisah-kisah yang akan saya ceritakan ini ibaratnya seperti permen karet, manis diawal namun hambar di akhir. Namun itulah cinta. Orang bijak berkata “Jika tidak berani tenggelam, jangan pernah berlayar. Jika tidak berani patah hati, jangan pernah jatuh cinta”

Namanya Hirnanda Miswade Putri. Panggilannya Putri. Beda usia kami hanya terpaut 1,5 tahun. Saya mengenal gadis ini lewat Facebook. Begini ceritanya. Awalnya Putri keliru menambahkan saya sebagai temannya di FB. Awalnya dia ingin meng-add seseorang namun dia salah menambahkan orang tersebut. Akhirnya yang dia add justru akun FB saya. Saya mengkonfirmasi akun FB dia dan akhirnya kami berteman di dunia maya. Waktu berlalu, ternyata dia sangat suka dengan status-status saya sehingga dia sering me-like status-status saya.

Suatu hari dia mengajak saya chatting, lalu kami kenalan dan mengobrol tentang banyak hal. Akhirnya chat kami, dia meminta no. HP saya. Sejak itu, kami rutin smsan sekedar untuk ngobrol. Setelah sebulan kami dekat, dia pun menelpon saya dan mengajak ngobrol tentang keluarga dan kuliah. Lalu tiba-tiba Putri bertanya, “Kak, kalo seandainya aku punya perasaan sama kakak, kakak bakal tanggepin apa ?”. Saya berpikir lalu kemudian menjawab, “Kok kamu bisa punya perasaan ama aku, padahal kan kita belum pernah ketemu ?”. Putri membalas, “Benar kak, memang kita belum pernah ketemu, namun bagi aku, kita udah cukup dekat walaupun tidak dekat secara fisik dan aku merasakannya. Apa kakak mau jadi pacar aku ?”.

Saya terkejut ‘ditembak’ secara langsung oleh teman FB yang bahkan kenal aja baru sebulan. Kemudian saya meminta waktu untuk berpikir dan lebih mengenal dia. Tiga minggu kemudian, saya menjawab permintaan dia untuk menjadi pacarnya. Hari itu, 10 Desember 2010, saya pacaran untuk kedua kalinya dengan gadis yang lain. Sebelumnya saya pernah pacaran dengan seorang gadis bernama Lia, namun hubungan kami hanya berlangsung 3 bulan saja, karena Lia selingkuh dengan pria lain.

Kembali lagi, sejak hari itu, saya memulai hidup yang semakin indah dengan Putri. Akhirnya saya punya pacar lagi setelah setahun lebih, saya menjomblo. Terasa sekali perbedaannya ketika sebelum saya pacaran dengan Putri dan setelahnya. Sejak saat itu, tiap pagi ada orang yang selalu setia membangunkan tidurku dan mengajak sholat subuh. Putri banyak bercerita tentang kisah hidupnya, antara lain, dia bercerita bahwa dia ditinggal mati oleh ayahnya sejak masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Dia sangat mencintai sosok ayahnya dan sangat merindukan sosok itu. Dia juga sangat menyayangi adik bungsunya, Putra. Setelah 2 bulan lebih kami pacaran, dia semakin merasakan sosok ayahnya di dalam diri saya. Dia berharap suatu saat, dia bisa menikah dengan saya.

Memasuki bulan Februari 2011, saya berencana mengajak Putri untuk ketemuan di Malang. Maklum, kami memang pacaran namun kami belum pernah ketemuan. Saya di Bintaro sedangkan dia di Jember. Oiya, dia orang asli Probolinggo, Jawa Timur, namun dia kuliah di Jember. Kami bersepakat untuk bertemu sekedar untuk kopi darat. Rabu siang itu, saya dan Ferdi yang orang asli Malang, pergi ke stasiun Senen untuk melakukan perjalanan kereta api menuju ke Malang. Esok harinya, kami sampai di Malang. Untuk 3 hari, saya menginap di rumah Ferdi. Pada hari yang sama, Putri pun sampai di Malang. Lalu kami janjian ketemuan di Matos (Malang Town Square). Kamis sore itu, kami ketemuan di Matos. Saya terpesona dengan penampilan Putri yang jauh lebih cantik dibandingkan di fotonya. Saya merasa senang dapat bertemu dengan pacar saya itu dan dia juga merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan saya. Dia mengajak saya untuk jalan-jalan keliling Matos, makan malam di restoran A&W, dan fotobox. Malamnya saya mengantar dia pulang ke rumah keluarganya yang ada di malang.

Keesokan harinya, Jumat pagi, kami jalan-jalan lagi keliling Malang. Kami mengunjungi beberapa tempat wisata. Setelah shalat Jumat, kami melajutkan plesiran wisata kuliner ke sebuah restoran (lupa nama restorannya). Menjelang sore hari, kami berpisah kembali.

Sabtu pagi, ini adalah hari terakhir saya bertemu Putri. Jam 9 pagi, saya bersiap-siap ke Bandara Juanda. Saya pamit kepada keluarga Ferdi dan menyusul ke rumah keluarga Putri. Putri kemudian mengantarkan saya ke Bandara dengan menaiki taksi. Kami pun berpisah. Saya terbang menuju Bandara Mataram sedangkan dia kembali ke rumah keluarganya. Bagi saya, tiga hari bersama Putri itu adalah salah satu pengalaman yang manis untuk ku kenang sepanjang hidup saya.

(bersambung)

English Village (Part 3 – Informasi Tentang Kampung Inggris)

Buat temen-temen yang ingin merasakan pengalaman belajar bahasa Inggris yang berbeda dan tidak terlupakan di Kampung Inggris, Pare Kediri, mungkin ada baiknya kalian memperhatikan catatan-catatan saya berikut ini, biar ada gambaran gimana sih Kampung Inggris itu sebenarnya. Well, cekidot.

1. Bila teman-teman berasal dari luar kota, utamanya dari luar Jawa, ada baiknya teman-teman mempersiapkan dengan matang beberapa hal di bawah ini agar sesampainya di Kampung Inggris, teman-teman bisa menikmati belajar bahasa Inggris dengan nyaman. Hal yang perlu dipersiapkan antara lain.

– Waktu belajar. Hal ini penting untuk direncanakan mengingat jangka waktu belajar minimal di kampung Inggris itu paling singkat 2 minggu dan paling lama 1 bulan dengan perpanjangan waktu yang tidak terbatas

– Biaya hidup. Di kampung Inggris ini, selain membayar biaya untuk les (biaya paket les tergantung kebijakan tiap bimbel), kita juga perlu memperhitungkan biaya hidup selama di sana. Misalnya kita berencana menghabiskan 2 minggu, maka kita perlu memperhitungkan berapa kira-kira biaya yang perlu dipersiapkan. Sumber informasi ini bisa teman-teman peroleh dari Grup-Grup bimbel kampung Inggris di FB.

– Barang bawaan, misalnya pakaian, gadget, obat-obatan, dan sebagainya juga perlu dipersiapkan.

2. Bimbel-bimbel di Pare biasanya mengawali musim ajaran baru pada tanggal 10 dan tanggal 25 setiap bulan. Jadi, kalo teman-teman berencana ke sana, datanglah sebelum kedua tanggal itu.

3. Ketika sampai di Pare, sebisa mungkin kalian harus langsung nyari kos-kosan. Sebaiknya jangan ditunda karena umumnya setiap menjelang akhir bulan, siswa baru akan semakin banyak berdatangan ke Pare dan mereka memburu kos-kosan yang paling murah dan yang paling dekat dengan tempat bimbel mereka.

4. Transportasi sangat dibutuhkan di Pare karena mobilitas manusia di Pare sangat tinggi. Maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menyewa sepeda di tempat penyewaan sepeda yang tersebar di banyak titik di Pare. Harga sewanya bervariasi, mulai dari 50 ribuan sampai 100 ribuan, tergantung kondisi sepeda tersebut. Semakin bagus, tentunya semakin mahal 🙂

5. Beberapa bimbel menyewakan asrama mereka. Jika kalian tertarik, silakan menyewanya. Namun biasanya, mereka menawarkan paket sewa asrama ditambah dengan biaya bimbingan di bimbel tersebut.

6. Ada ratusan bimbel di Pare, namun yang paling diminati oleh para siswa hanya beberapa saja, antara lain.

– Elfast (spesialis Grammar dan TOEFL)

– Global English (spesialis Grammar)

– Daffodils (spesialis Speaking)

– Oxford (spesialis TOEFL ITP)

– BEC atau Basic English Course (spesialis English College)

– Access (spesialis Grammar)

– Test (spesialis TOEFL For Scholarship and Interview)

– Mr. Bob (spesialis Fun Speaking)

– Mahesa Institute (spesialis English College)

– Kresna (spesialis Grammar)

– Marvelous (spesialis American Speaking)

– Awareness (spesialis British Speaking)

7. Gak perlu repot nyari tempat makan. Di sepanjang jalan Brawijaya, jalan utama menuju berbagai tempat bimbel, banyak bertebaran warung-warung makan. Mulai dari warung makan yang menawarkan makanan yang murah meriah sampai makanan yang mahal, semuanya ada di beberapa titik, yaitu di Jalan Brawijaya, Jalan Anggrek, dan Jalan Anyelir.

8. Gak sempat nyuci pakaian karena jadwal bimbel yang padat ? Di Pare juga banyak Laundry. Harganya miriiing banget. Mulai dari 3.000-an per kilogram sampai 5.000-an per kilogram.

9. Beberapa bimbel memiliki English Area. English Area adalah area atau tempat dimana siswanya diwajibkan berbicara dengan bahasa Inggris. Apabila ketahuan berbahasa Indonesia, akan diberi sanksi, misalnya dicolek bedak, disuruh mandi di sungai, disuruh menghapal 20 vocabulary tanpa salah, dan sebagainya. Maka untuk temen-temen, sebaiknya ketika kalian berada di English Area, berbahasa Inggris lah tanpa mempedulikan grammar, biar gak kena hukuman hehe :p

10. Tempat nongkrong favorit siswa-sisiwi kampung Inggris

– Bali House. Ini kayak semacam café, tapi suasananya memakai konsep Nature Party, dimana makanan dan minumannya disajikan secara outdoor persis Garden Party. Biasanya anak-anak Pare nongkrong disini demi internetan gratis dari wifi Bali House.

– Wisata jamur. Ini restoran yang menu makanannya dipenuhi segala jenis sajian jamur. Cocok buat ngumpul-ngumpul dan reunian.

– Simpang Gumul. Ini adalah tugu atau monumen paling terkenal di Pare. Gaya bangunannya mirip Triumph di Prancis. Banyak siswa Pare yang berkunjung ke sini untuk sekedar berfoto-foto.

– Ketan Susu. Warung sederhana yang menyediakan kue-kue ringan dan gorengan ini selalu dipenuhi siswa Pare yang ingin hangout sambil menikmati indahnya pematang sawah dan lingkungan sekitar yang pedesaan banget.

11. Fasilitas-fasilitas penting yang mungkin dibutuhkan siswa bimbel serba lengkap, mulai warnet, stasioner (fotokopi dan ATK), counter pulsa, hingga sarana olahraga.

12. Bagi yang hobi membaca, di Kampung Inggris, ada beberapa toko buku yang cukup recommended. Namanya kalo gak salah, Toko Bina Ilmu. Biasanya teman-teman yang pengen punya kamus Oxford, kamus Webster, dan kamus-kamus lainnya belinya di sini. Trus ada satu took buku lagi di dekat Mahesa Institute, sebelahnya kantor Pos. Lupa namanya apa, tapi harga buku disana cukup murah.

13. Bagi yang suka berenang, ada beberapa swimming pool yang bisa dijadikan tempat berenang di akhir pekan.

14. Bagi yang suka manjat gunung, biasanya ada paket tour ke gunung Bromo. Yang adain komunitas pecinta alam di sana.

15. Kalo teman-teman punya dana yang lebih banyak, gak ada salahnya jalan-jalan ke Jatim Park. Letaknya di kawasan Batu, Malang. Sewa mobil charter lebih hemat, biar bisa sekalian patungan. Jatim Park itu semacam wahana wisata keluarga yang konsepnya menggabungkan beberapa konsep, yaitu wahana bermain, museum, kebun binatang, waterpark dan restoran. Untuk menikmati kelengkapan fasilitas itu, HTM nya cuma 40 ribu untuk weekday dan 60 ribu untuk weekend.

Sekian informasi penting dari saya tentang fasilitas yang ada di Kampung Inggris ini. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang sedang berencana atau akan berencana buat ke sana. Salam.

English Village (Part 2 – Cerita-Cerita di Pare)

Berikut ini adalah beberapa kisah-kisah pengalaman (trivia) saya setelah hari pertama tiba di Kampung Inggris, Pare Kediri. Cekidot.

1. Di GE ini, saya mengambil pelajaran Speaking dan Vocabulary. Oiya perlu diketahui tentang sistem belajar di GE ini. Sistemnya, 1 paket bimbingan hanya boleh ngambil 2 mata pelajaran dan tiap paket dikasih jatah waktu 2 minggu, dimana 1 minggu terdiri dari 3 pertemuan.

2. Untuk 2 minggu pertama, saya hanya mendaftar di bimbel GE aja. Soalnya pada saat itu, saya kan belum tau jadwal GE jadi waktu itu saya belum bisa atur waktu untuk ngambil pelajaran lain di bimbel lain. Baru ketika saya memasuki minggu ketiga, saya mulai bergerilya mencari bimbel lain yang cocok hehe.

3. Setiap Jumat malam, GE punya acara rutin, yaitu yasinan. Tempatnya bergiliran selang seling, di asrama putra atau di asrama putri. Trus ada juga program debat dalam bahasa Inggris.

4. Saya, Amal, Saddang, Afdhal, Nur, dan Tulus, ngecamp di asrama putranya GE selama 2 minggu. Minggu ketiga, saya pindah ke asrama putranya Elfast, sebuah bimbel ‘raksasa’ di Pare.

5. Di Pare, saya pernah naksir sama seorang gadis, tutor saya juga. Namanya Ana. Orangnya baik, manis, putih, shalehah, pake kacamata, punya gingsul, jago bisnis dan tentunya juga jago berbahasa Inggris. Sayang seribu sayang, dia udah pacaran ama kak Fahmi *envy :”

6. Setiap sabtu dan minggu pagi, saya dan teman-teman bimbel rutin gowes dan menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan pematang sawah khas Pare sambil menikmati gorengan di Ketan Susu, sebuah warung terkenal yang memiliki kuliner andalan yaitu ketan putih yang dinikmati dengan susu kental manis atau susu bubuk. Yummy.

7. Awalnya saya tergoda untuk pindah ke Elfast karena disana ada wifi 24 jam. Maklum, saya kan orangnya suka banget ngenet, jadi kalo ada internet gratisan aja pasti diusahakan. Namun sayang, setelah beberapa hari pindah di sana, fasilitas internetnya sangat mengecewakan. Pesan moral : Jangan terlalu cepat tergiur sesuatu yang terlihat menguntungkan. Tidak semua yang kita dengar dan kita lihat itu sesuai dengan yang kita alami.

8. Sepanjang saya mengenal Afdhal, sahabat saya itu, saya tidak pernah melihat semangat belajarnya rendah dalam hal apapun. Baik itu akuntansi maupun bahasa Inggris (atau apapun) pasti akan selalu ditekuni Afdhal dengan sangat baik. Dia adalah seorang pelajar yang keras (hard learner).

9. Dua minggu pertama, saya mengambil pelajaran Speaking dan Vocabulary di GE. Dua minggu selanjutnya, saya mengambil pelajaran Pronunciation dan Speaking di GE bersamaan dengan pelajaran Translating di Elfast. Kebetulan, saya sangat cinta dengan bahasa Inggris, dan kegiatan yang paling saya sukai dari belajar bahasa Inggris adalah Translating atau Menerjemahkan. Makanya, untuk pertama kali dalam sejarah belajar bahasa Inggris, saya belajar ilmu penerjemahan. Mengenai ilmu ini, nanti saya bahas di kesempatan mendatang.

10. Pengalaman bersama teman-teman di Global English

– Tonite Show, belajar bersama dengan Mr. Syahrul mengenai perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris, bagaimana cara mengucapkannya, dan penerapannya dalam kehidupan. Tonite show biasanya diadakan setiap habis magrib dan habis subuh.

– Belajar Pronunciation (Pengejaan) bersama Miss Juwita yang lebay namun baik hati.

– Ada teman yang gokil, kocak, dan absurd, misalnya Amal, Tulus, Suwiknyo, Kak Bahar, Duo NTB, dll.

– Ada teman yang kritis dalam berdebat, misalnya Saddang

– Ada teman yang tekun belajar, misalnya Afdhal

– Curhat bareng Miss Ana. Dia banyak berbicara tentang mulai dari tentang dirinya yang lebih suka home-schooling daripada pendidikan formal sampai tentang keluarganya.

– Ngenet bareng Tamara di halaman asrama putri GE. Gak Cuma ngenet, dia juga cerita tentang keluarganya dan pendidikannya. Tamara ini sahabat dekat saya di Pare.

– Malam Idul Adha, bocah-bocah GE mengadakan lebaran bareng sambil makan daging kambing di asrama putra GE.

11. Pengalaman bersama teman-teman di Elfast

– Sekelas bareng beberapa teman yang jago banget dalam hal Translating, misalnya kak Ayu, kak Vera, Ali, dan Husen.

– Makan malam bareng ama temen sekamar, yaitu Agung, Sybro, dan Olgi.

– Jalan-jalan ke wahana bermain dan kebun binatang, Jatim Park II bareng Elfast gank (Olgi, Agung, Sybro, Dimas, Vivi)

– Nonton pentas Elfast bareng keluarga besar Elfast

Lanjut ke sini

English Village (Part 1 – Kekeliruan Yang Menyenangkan)

Kali ini saya ingin bercerita ala-ala sinetron stripping. Bersambung gitu. Jadi ntar ceritanya terbagi dalam beberapa part atau episode dan tiap episode punya tema sendiri, so tetap stay tune ya hehe.

Agenda saya pasca acara wisuda tahun 2012 adalah berkunjung ke Kampung Inggris di Pare, Kediri. Sejak SMA, saya sudah sangat penasaran dengan kampung yang satu ini. Kata orang, kampung Inggris ini adalah pusat belajar bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Makanya, saya dan beberapa teman saya dari IMAM berencana berkunjung ke sana. Awalnya adalah Amal, seorang alumni spesialisasi Piutang dan Lelang (PPLN) yang mengajak Saddang (alumni spesialisasi Kebendaharaan) dan saya (alumni spesialisasi Akuntansi) untuk berpetualang ke timur pulau Jawa. Begitu diajak, saya langsung bersemangat untuk ikut ke sana kemudian juga mengajak Afdal (Akuntansi) dan Nur (PPLN) untuk ikut serta. Namun sayangnya, kami tidak bisa pergi berlima karena saya, Saddang, dan Amal berangkat sebelum Idul Adha sedangkan Afdhal dan Nur berangkat setelahnya.

Bintaro pada pagi hari itu sangat cerah. Pada hari keberangkatan (23/10), kami telah mempersiapkan segalanya untuk di bawa kesana. Trus, smsnya si Amal muncul, “Bro, ada masalah besar. Ada yang harus dibicarakan. Ketemu dekat Student Centre”. Saya dan Saddang yang sudah menunggu di kosan saya, tiba-tiba bertanya-tanya apa yang terjadi. Kami langsung ke Student Centre ketemu Amal. Inilah percakapan kami.

Amal : Bro, gawat. Ternyata mas Pamulak salah nyetak tiket kita. Ini tiket untuk minggu depan. Gimana mi ini ?
Saddang : Tidak bisa diubah kah bro ?

Amal : tidak bisa. Sudah dibeli mi.

Rama : Aduh gimana ini ? Tidak ada mi lagi tiket yang lain ?

Amal : Nanti saya cari dulu di Alfamart nah.

Saddang dan Rama : (mengangguk)

Amal dengan sigap langsung muter balik motornya, nyari Alfamart terdekat, dan sebagai tanggung jawabnya, dia beliin kami berdua tiket pengganti. Fyuuuh, untung saja masih ada 5 tiket terakhir yang tersisa pada hari itu. Tapi sebagai gantinya, perjalanan kami selanjutnya tidak akan semulus perjalanan yang direncanakan sebelumnya. Awalnya begini, sesuai rencana, nanti destinasi kami adalah seperti ini Jakarta – Kediri. Namun, karena kekurangtelitian si Amal ketika membeli tiket yang direncanakan, kami pada akhirnya mendapatkan tiket yang berbeda rute, yaitu Jakarta – Semarang. Perjalanan kami diawali dari Stasiun KA Pasar Senen yang berangkat sore hari kemudian berhenti di kota Semarang pada waktu subuh keesokan harinya.

Awalnya saya gondok banget, sebeeel banget, kenapa sih harus keliru begini perjalanannya. Kekeliruan ini membuat jarak tempuh dan waktu tempuh kami jadi lebih lamaaaa. Namun, seiring waktu berjalan, kegondokan dan kejengkelan saya itu berubah menjadi kegembiraan ketika saya sadar bahwa perjalanan panjang ini akan menjadi kenangan untuk hidup saya. Bahwa perjalanan dari subuh sampai magrib, dari Semarang Jawa Tengah sampai Kediri Jawa Timur saya habiskan dengan menikmati pemandangan dari banyak kabupaten-kabupaten. Kabupaten terakhir yang saya injak sebelum sampai ke Kediri adalah Jombang.

Keluar dari stasiun Semarang, waktu itu pukul 5 subuh. Saya melihat matahari sudah menampakkan semburat cahayanya. Saya baru sadar, di Jawa ini, matahari terbit dengan sangat cepat dibandingkan di kota lain, Makassar misalnya. Kami kemudian naik angkot menuju ke terminal. Lalu dari terminal kami naik bus yang membawa kami sampai Kediri. Di sepanjang perjalanan kami beberapa kali berganti bus karena ada bus yang beda tujuan. Selama di pemberhentian, saya tidak lupa mengabadikan beberapa potret kota-kota sebelum Kediri. Ini dia.

Pas sampai di Pare Kediri, kami langsung menuju ke asrama Global English. Global English ini salah satu dari ratusan bimbel di Pare. Dan GE, nama akrab dari Global English, ternyata salah satu bimbel terbesar di Pare. Masuk ke dalam asrama, oleh tutornya Mas Fadil, kami diperkenalkan dengan roommate kami. Ada kak Anca dan kak Bahar dari Makassar, ada Daus dari Bandung, ada mas Syahrul dari Blitar(kalo gak salah) dan lain-lain. Setelah berkenalan, kami merapikan koper-koper kami lalu mandi (sejak pagi gak sempat mandi hehe) trus kegiatan terakhir adalah nyari makan malam terdekat.

Dalam perjalanan buat nyari makan malam, kami mendengar beberapa student dari bimbel lain yang ngobrol pake bahasa Makassar. Setelah mencari tahu, ternyata banyak sekali orang Makassar yang berkunjung ke Pare, sehingga tidak berlebihan kalo ada yang menyebut Pare sebagai Kampung Makassar 🙂

Besok pagi, kami bergerilya untuk menyewa sepeda selama sebulan. Di kampung Inggris ini, banyak bimbel dan lokasi kuliner yang asyik, makanya alat transportasi itu dibutuhkan banget di sini. Dan alat transportasi yang paling merakyat di sini adalah sepeda dan sepeda ontel. Buat cewek, sepeda ontel mungkin paling cocok soalnya ada keranjang buat nyimpen tas. Buat cowok, biasanya nyewa sepeda biasa aja. Setelah menyewa sepeda, kami kemudian pergi ke Head Office nya GE buat ikut placement test. Placement Test itu ujian untuk mengetahui di level mana kita sebaiknya ditempatkan, apakah di level Beginner (Pemula), Medium (Menengah), atau Advance (Lanjutan). Saya ternyata dapat level Menengah dan mulai keesokan hari saya belajar menurut jadwal untuk level Menengah 🙂

Wisuda STAN 2012 – Memorable Memory

Pagi-pagi buta, tepat pukul 3 subuh, ayah saya membangunkan saya dari tidur yang sangat nikmat. Walaupun ada sedikit rasa enggan, namun akhirnya saya bangun juga setelah menyadari bahwa ini adalah hari yang akan sangat membahagiakan buat saya dan keluarga. Dengan langkah penuh semangat, saya bergegas untuk mandi, lalu kemudian berpakaian kemeja putih polos dan celana hitam. Kemeja dan celana itupun dibalut lagi dengan toga, topi wisuda, liontin, dan sleber. Alhasil, inilah saya 🙂

untitled3Saya, Yayat (adik terakhir saya), dan Bapak sarapan Mie Kuah di warung Mas Gondrong. Soalnya, hanya warung Mas Gondrong yang masih buka pada jam 3 dini hari. Ibu, Bibi Fau, Tante Lela, Tante Dengkanang, dan Syntha (adik pertama saya) sudah siap-siap untuk berangkat, tinggal menunggu kami yang sedang makan. Beberapa menit kemudian, kami naik ke dalam bus yang akan membawa kami ke tempat wisuda saya, yaitu Sentul International Convention Centre (SICC) di Bogor.

IMG_1107

Rama (Atas) Bibi Fau, Tante Lela, Tante Dengkanang (Bawah, Kiri ke Kanan)

untitled

Saya dan Ibu 🙂

untitled

Saya dan Syntha NB : Irwan lagi ngapain tuh di belakang :p

untitled

Yayat B-)

Perjalanan Bintaro-Bogor yang memakan waktu sekitar sejam membuat saya terkenang kembali akan masa-masa awal saya menginjakkan kaki pertama kali di kampus STAN. Rasanya baru kemarin saya jadi mahasiswa baru, tidak terasa hari ini saya akan diwisuda. Time flies so fast :”) Kenangan indah itupun terhenti ketika Syntha menyadarkan saya bahwa kami semua sudah tiba di tempat ini.

untitled2

www

Kami bertujuh pun bergegas turun dari bis dan berjalan memasuki lingkungan SICC. Sebelum masuk ke dalam gedung untuk melakukan registrasi wisuda, saya dan keluarga melakukan ritual yang sangat umum dilakukan oleh semua keluarga wisudawan. Ini dia ritualnya.

wow

Saya dan Mas Irwan, salah satu sahabat terbaik di STAN :)

Saya dan Mas Irwan, salah satu sahabat terbaik di STAN 🙂

The most wonderful father ever ;)

The most wonderful father ever 😉

sdSetelah kami puas untuk berfoto-foto di pelataran lobby SICC, saya kemudian melakukan registrasi sebagai tanda bahwa saya sebagai wisudawan telah attend the party. Setelah registrasi, kami diatur berbaris-baris sesuai dengan IPK masing-masing. Dan karena saya masuk 100 besar mahasiswa ber-IPK paling kecil, maka saya dibariskan di barisan paling belakang. Syeediih sih tidak mendapat kehormatan untuk berada di barisan terdepan, tapi gak apalah, yang penting bisa membuat orang tua bahagia 🙂

Sekitar setengah jam menunggu di barisan paling belakang, saya dan teman-teman yang lain mulai memasuki aula wisuda yang sangat luas ini. Wajah-wajah bahagia para wisudawan, wisudawati, orang tua dan keluarga mereka tampak memenuhi ruangan yang gemerlap itu. Masuknya saya ke dalam aula itu disambut dengan koor nyanyian yang indah dari Vocawardhana, yaitu kumpulan paduan suara STAN.

sd

Para wisudawan mulai mengambil tempat masing-masing

sdn

Wisudawan telah menempati posisi masing-masing

Barisan paling depan ini barisan wisudawan terbaik *envy :'3

Barisan paling depan ini barisan wisudawan terbaik *envy :’3

Suasana sidang wisuda

Suasana sidang wisuda

Saya menempati kursi di tribun bagian atas, tepatnya di ujung dekat tangga tribun. Koor nyanyian “Mars STAN” menggaung selama beberapa menit sebelum akhirnya berhenti setelah semua wisudawan, termasuk wisudawan D-I dan wisudawan D-IV, memasuki ruangan aula. Keheningan pecah saat MC membuka prosesi wisuda dan mengajak para hadirin untuk menyanyikan beberapa lagu nasional, seperti “Indonesia Raya” dan “Padamu Negeri”. Setelah sesi tersebut selesai, masuklah ke sesi sambutan-sambutan. Ada beberapa tokoh penting yang memberikan sambutan dalam acara wisuda kami, yaitu Bapak Direktur STAN (Kusmanadji Ak. M.B.A.), Bapak Kepala BPPK (Drs. Kamil Sjoeib M.A.), dan Bapak Sekjen Kemenkeu (Ki Agus Ahmad Badaruddin). Sangat disayangkan, Bapak Menteri Keuangan (Agus Martowardoyo) tidak dapat menghadiri prosesi wisuda kami.

Setelah sambutan-sambutan diberikan oleh semua petinggi-petinggi Kementerian Keuangan, maka tibalah saatnya prosesi wisuda yang sakral. Satu persatu kami dipanggil ke atas podium untuk menerima ucapan selamat dan menerima tanda wisuda dari para pejabat eselon 2 Kemenkeu. Sebelum prosesi wisuda selesai, seorang wisudawati bernama Fauziah Mahabatussalma membacakan puisi yang sangat menggugah hati, baik para wisudawan dan orang tuanya. Puisi yang berjudul “Ayah dan Ibu, Inilah Persembahan Cintaku” telah sukses menguras air mata para hadirin, sehingga puisi yang dibacakan sekitar 10 menit itu berakhir bertepatan dengan dipanggilnya wisudawan terakhir ke atas podium :’)

The most magnificient moment ever… 🙂

Para wisudawan antri untuk diwisuda

Para wisudawan antri untuk diwisuda

Para wisudawan antri untuk diwisuda

Para wisudawan antri untuk diwisuda

Sisi lain antrian wisuda

Sisi lain antrian wisuda

Antrian wisuda. Saya mengantri paling depan di gambar ini.

Antrian wisuda. Saya mengantri paling depan di gambar ini.

 Setelah wisudawan terakhir kembali ke posisinya dan keriuhan yang mewarnai seisi aula SICC, kesenyapan mulai menjalar. Bapak Ki Agus maju untuk mengajak para wisudawan dan wisudawati untuk melakukan satu prosesi terakhir yaitu “Hormat Toga”.  Dalam budaya wisuda STAN, Hormat Toga memiliki arti penting sebagai  prosesi sumpah secara massal yang diikrarkan oleh para wisudawan dan wisudawati untuk tetap memegang teguh integritas, kejujuran, dan pengabdian kepada masyarakaty di lingkungan kerja nanti. Hormat Toga hampir sama dengan prosesi Sumpah Jabatan yang biasanya dilakukan oleh PNS yang akan dilantik. Hormat Toga dilakukan dengan memegang tali topi toga sambil mengucapkan semacam sumpah yang diucapkan terlebih dahulu oleh Sekjen Kemenkeu.

BXPbj-LCcAA1z8D.jpg large

Prosesi Hormat Toga

untitled

Prosesi Hormat Toga

untitledd

Prosesi Hormat Toga

Setelah prosesi “Hormat Toga” berakhir, maka berakhir pulalah seluruh rangkaian prosesi wisuda. Acara tersebut ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu dewan senat wisuda. Setelah semuanya selesai, semua wisudawan berpelukan, menangis haru, bahagia, tersenyum, berfoto bersama keluarga dan lain. Bagaimana dengan saya dan keluarga saya ? 🙂

untitledd

Saya, adik-adik, dan ibu 😉

dda

Saya, adik-adik, dan ibu 😉

efw

Keluarga lengkap hehe 😀

dADA

Dapat kesempatan berfoto dengan dayang-dayang (Baca : Panitia Wisuda) :p

DADADA

Berfoto ama Rini dan Pritha 🙂

FA

Kegembiraan anak dan bapak sangat terlihat 😀

dadaw

Me and Kukuh

z

Makan siang yuk :9

vd

Saya dan Nur, anak IMAM dari Spes PPLN

dwdw

In front of SICC, on 15.47 p.m.

ad

Me and my sist :3

Setelah puas berfoto-foto dan makan siang di aula luar gedung SICC, saya dan keluarga saya bergegas menaiki bus untuk kembali ke kampus STAN. Perjalanan selama sejam dengan bus itu saya nikmati sambil merasakan semilir udara bogor yang semakin dingin. Pukul 5 sore, kami rombongan anak-anak STAN tiba di pelataran air mancur kampus STAN dan kembali bernarsis ria hohoho 😀

SAS

Muhammad Afdhal Usman, lulusan terbaik Spesialisasi Akuntansi. Sahabat terbaik saya selama di STAN 🙂

FS

Like Father, Like Son

ADA

Narsisnya Syntha

FDFA

DADAS

The best parent ever 🙂

FSFS

Sukseeees !!

DADAWWW

M. Zen Rofiq in action hohoho

SAA

Arman, Sahabat Pertama saya di STAN 🙂

ASA

Arman dan keluarga saya 🙂

DAA

Keluarga saya dan keluarga Afdal

Menjelang maghrib, kami sekeluarga kembali ke kosan saya dengan perasaan yang sangat bahagia. Tidak terasa perjuangan selama 3 tahun penuh berakhir dengan penuh uraian air mata bahagia. Tangis ayah dan ibu mengiringi perjalanan saya pertama kali menuju Bintaro lalu kali ini saya melihat tangis mereka kembali bercucuran melihat anaknya telah selesai menyelesaikan pendidikannya di Bintaro. Inilah kado spesial terindah untuk kalian, AYAH dan IBU. I love you 🙂